Hurricane Ida atau Badai Ida melanda Amerika Serikat (AS) sejak awal pekan ini dan menimbulkan banyak kerusakan hingga menelan korban jiwa di sejumlah kota di AS.

Efek dari badai ini, listrik di hampir seluruh daerah New Orleans terputus total pada Senin (30/8) dini hari akibat hantaman Badai Ida yang saat ini menyapu bersih sebagian besar wilayah Louisiana, Amerika Serikat.

Selain itu, setidaknya hantaman Badai Ida ini menewaskan hampir 50 orang akibat banjir bandang yang dipicu oleh gerald howarth Ida Hurricane beberapa hari belakangan. Kebanyakan korban jiwa yang meninggal diakibatkan oleh terjebak di ruang bawah tanah atau basement rumah maupun apartmentnya.

Laporan kematian lain terjadi di Connecticut, Philadelphia, dan Pennsylvania. Sementara, sistem transportasi bawah tanah di New York juga terganggu akibat banjir yang dipicu oleh Ida.

Badai ini juga menerjang wilayah Karibia dan masuk ke AS melalui negara bagian Louisiana. Presiden AS Joe Biden rencananya akan mengunjungi Louisiana untuk meninjau kerusakan yang terjadi.

Badai Ida mempunyai sejumlah keanehan dibanding badai lain. Pertama, sebab badai ini makin membesar ketika meraba daratan, meskipun umumnya badai akan melemah dikala hingga ke darat dari laut. Kedua, badai ini membesar dengan kencang dan kapabel bertahan lama.

Nama Ida dipilih sesuai abjad kesembilan, sebab badai ini adalah badai kesembilan di musim badai (hurricane season) di wilayah Atlantik. Sebelumnya ada badai Ana, Bill, Claudette, hingga Henri.

Badai Ida masuk ke dalam hurikan kelompok 4 dengan kecepatan angin 241,4 kilometer per jam.

Kecepatan badai ini dapat menghancurkan atap dan mencabut tiang-tiang listrik. Itu menunjang dinding air yang cukup kuat untuk menyapu rumah dari fondasi dan merobek perahu dan tongkang dari tambatannya.

Hembusan angin ini juga dapat menunjang gelombang air yang cukup tinggi sehingga dapat menyapu rumah dan merobek perahu dan tongkang dari tambatannya.

Topan ini dengan kencang berubah dari topan kelompok 1 di Teluk Meksiko ke kelompok 4 dalam 24 jam saat meraba daratan. Meski umumnya topan akan makin mengecil seperti itu meraba daratan.

Kecepatan angin malahan berubah kencang dari 150 kilometer per jam pada Sabtu, sampai nyaris meraba angka 250 kilometer per jam dikala meraba daratan pada Pekan (29/8).

Global Warming ikut memperparah badai-badai tropis menjadi semakin besar. Bumi yang makin hangat merupakan imbas pembakaran bahan bakar fosil, ikut menghangatkan lautan.

Keduanya mengakibatkan makin tinggi kelembaban udara. Udara yang hangat dan lembab, merupakan bahan bakar untuk memperbesar badai. Angin yang dihasilkan badai pun makin kencang, sehingga badai jadi makin merusak, seperti dikutip Scientific American.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *